Architecture / Design / Thoughts

Antara Diskursus, Riset, dan Realita: Haruskah Ada Disparitas?

Antara Diskursus, Riset, dan Realita: Haruskah Ada Disparitas?
Sebuah opini tentang desain di tanah air

Jika melihat lini masa media sosial yang saya miliki, saya sangat senang melihat semangat yang menggebu-gebu dari para pelaku desain dan seni di Indonesia. Baik dari kalangan individu maupun industri, seperti memiliki visi yang sangat baik untuk terus menumbuhkan semangat berkarya. Mulai dari diskusi yang sarat dengan opini hingga penelitian yang sangat erat dengan pola pikir serta metode ilmiah – keduanya memiliki tujuan untuk menciptakan lingkungan kreatif yang kondusif: penuh pemikiran-pemikaran segar dan ide-ide baru untuk diolah maupun diwujudkan.

Jika memperhatikan kegiatan para pelaku kreatif, maka kita akan mudah menemukan berbagai diskursus yang diangkat atas berbagai motivasi: ada yang sekedar iseng, ada yang memang sudah gatel dengan kondisi yang ada, maupun mendapat titah dari dunia maya. Mereka pun berangkat dengan berbagai semangat: ada yang senang menumbuhkan iklim kompetitif, ada yang mencoba menumbuhkan tren (baca: pasar) baru, serta ada yang murni demi tujuan yang bersifat akademik.

Namun, sudahkah diskursus-diskursus tersebut ini dibarengi dengan riset? Ataukah diskursus ini hanya berakhir menjadi wacana perbincangan, atau dieksekusi tanpa dasar pemikiran yang matang melalui riset? Mungkin beberapa pelaku sudah melakukannya – aktif dalam diskursus serta riset. Tapi seberapa banyakkah yang sadar pentingnya kesinambungan antara diskursus dan riset ini?

Kegiatan diskusi bersama tim Atap Jakarta, yang mencoba mencari isu-isu rumah Indonesia melalui metode dialog bersama para pelaku arsitektur di Indonesia.

Kegiatan diskusi bersama tim Atap Jakarta, yang mencoba mencari isu-isu rumah Indonesia melalui metode dialog bersama para pelaku arsitektur di Indonesia.

Mungkin memang saya sendiri yang baru melek dengan kegiatan bernama riset ini. Tapi saya juga melihat ada kesenjangan yang terjadi – kesenjangan yang timbul diantara diskursus dan riset. Diskursus yang tidak menjadi riset, atau riset yang muncul tanpa diskursus. Bagi saya, hal ini seperti mengatakan “motivasi yang tidak berbuah aksi, atau aksi tanpa motivasi”.

Akan tetapi diskursus dan riset bukanlah sebuah hubungan sebab akibat saja. Lebih jauh lagi mereka sebenarnya memiliki hubungan iteratif. Ketika kita memiliki motivasi, kita akan mewujudkannya menjadi sebuah aksi. Aksi yang kita lakukan bisa saja menimbulkan motivasi bagi aksi kita berikutnya ataupun bagi individu lain. Hubungan ini bersifat timbal balik dan berlangsung secara terus menerus.

Baiklah, kembali ke pertanyaan apakah diskursus dan riset sudah berbarengan – apa yang membuat saya bertanya seperti ini? Suatu hari di bulan Februari 2016 seorang dosen saya bercerita bagaimana konferensi ilmiah begitu menjenuhkan karena suatu penyebab yang simpulkan “hilangnya semangat diskursus dalam riset”. Entah itu dalam bentuk topik konferensi yang acapkali timbul tanpa suatu diskursus (istilahnya ujug-ujug ada), atau hasil konferensi yang tak memicu diskursus untuk muncul. Ya, tidak ada hubungan timbal balik seperti yang saya nyatakan sebelumnya. Diskursus maupun riset berjalan satu arah, pada jalurnya masing-masing. Seperti hubungan dua sejoli yang begerak pada dua garis yang saling paralel: saling berjalan namun tak memiliki titik temu sama sekali.

Lebih parah lagi, apabila baik diskursus maupun riset tidak bertemu dengan realita. Apakah diskursus yang kita koar-koarkan ternyata hanya idealisme pribadi semata? Apakah riset yang kita kembangkan hanya pemuas dahaga keingintahuan sahaja? Ataukah ada kegelisahan maupun keresahan atas lingkungan sekitar kita?

Atau ternyata ada eksklusifitas, membuat bidang yang kita geluti hanya milik beberapa kalangan saja.

Sadarkah ketika kita mengeksklusifkan diri, hal tersebut membuat bidang yang kita geluti jauh dari jangkauan publik. Takjub sendiri, heboh sendiri, hingga akhirnya semakin berpisah dari realita. Memberi jarak berupa ruang, yang lama-lama menjadi jurang antara pihak yang mahir dengan pihak yang awam.

Mungkin juga ini penyebab keluhan mengapa seperti ada perbedaan antara bidang profesi dan akademik.

Saya butuh desainer dari kalangan sarjana! Bukan juru bicara! Bukan juga yang pandai ngeles dengan kata-kata saja!

Atau mengapa bidang akademik seperti jauh dari bidang-bidang populer. Hingga kekosongan-kekosongan itu akhirnya diisi oleh tulisan-tulisan yang mampu menyesatkan publik.

Menjadi Arsitek Semudah Membalik Tangan. Yang ada muka saya yang dibalik oleh klien. 

Bisa jadi ini juga alasan mengapa harga diri dunia profesi kadang-kadang dijatuhkan di publik. Seperti gambar yang viral di kalangan arsitek di bawah ini contohnya.

Mohon maaf, saya tidak tahu kredit gambar ini ke siapa.

Senangnya, setelah semudah membalik telapak tangan, berikutnya secepat kilat. Oh ya, mohon maaf, saya tidak tahu kredit gambar ini ke siapa.

Tapi bersyukurlah kalau anda arsitek, setidaknya teman-teman Anda masih minta dibuatkan rumah. Yah walaupun basa-basi, setidaknya teman Anda tahu apa yang Anda lakukan. Tidak pernah saya dengan orang minta dibuatkan sepeda oleh desainer produk. Ilustasi oleh desainer grafis? Lho gambar doang kok bayar. Di Google Image kan banyak wallpaper gratis yang bagus tuh.

Kenapa? Karena orang awam kurang informasi. Mungkin kita terlalu eksklusif dengan bidang kita masing-masing. Mungkin kita kurang berinteraksi, nyaman dengan orang-orang sebidang. Malas memberi tahu tentang bidang yang kita geluti pada khalayak.

Tulisan ini sebenarnya pengingat pribadi bahwa terkadang sebagai pemula di bidang riset, saya masih terbawa-bawa nafsu “ini lho, ini topik yang in banget! Kok gak pengen ini aja sih topik risetnya?” Lama-lama akhirnya saya paham,”Oh iya, ternyata ini yang publik butuhkan, ya.” Ternyata benar kata peribahasa,”Seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk.” Arogansi akan menghilang seiring bertambahnya pengetahuan pada diri. Semakin banyak referensi berupa pengalaman maupun bahan bacaan, saya sadar bahwa saya butuh peka dengan lingkungan. Peka. Iya itu dia, butuh peka.

Tanpa kepekaan, atau sensitifitas terhadap lingkungan sekitar kita, akan muncul disparitas antara diskursus, riset, dan realita tadi. Parah juga ya, sudah aksi tanpa motivasi, eh ternyata gak sesuai kebutuhan lagi. Seperti beli cemilan tanpa rencana belanja bulanan, gak bikin kenyang sama ibu kos malah diganyang. “Ayah, Bunda, apa kabar?” ujar seorang mahasiswa di akhir bulan.

Apakah saya menulis atas dasar ketidak senangan terhadap keadaan yang berlangsung saat ini?

Saya justru senang sekali, lho. Saya lihat di tanah air, semakin lama diskusi-diskusi antar pelaku desain semakin ramai. Diskursus semakin dalam dengan pembahasan yang makin tajam. Riset yang tertuang dalam jurnal semakin banyak. Yang peduli dengan masyarakat pun semakin membuat tersentuh.

Ngangenin lho rasanya- kangen berdiskusi ngalor ngidul berbicara soal desain dengan orang-orang yang sama-sama bergairah soal desain.

Biennale Desain dan Kriya Indonesia (BDKI) 2013 - memacu pelaku kreatif dalam negeri berkarya dengan pola pikir industri.

Biennale Desain dan Kriya Indonesia (BDKI) 2013 – memacu pelaku kreatif dalam negeri berkarya dengan pola pikir industri.

Mungkin anda perlu melihat, ada banyak negara-negara di luar sana yang tampak kaya tapi miskin diskursus. Ikut-ikut saja, lihat yang tren saja, ujung-ujungnya jadi masyarakat homogen. Takut tampil beda, jadi omongan orang nantinya. Ada lho, negara maju bahkan. Apa? Hehe tebak saja.

Yah, penutupnya, saya berharap pelaku kreatif menjadi semakin inklusif. Kaya diskursus, berbasis riset, dan peka dengan realita. Agar terjadi dialog antara pakar dan masyarakat – atau dalam konteks tulisan ini, antara desainer dan masyarakat. Masyarakat melek desain, desainer pun juga melek dengan apa yang terjadi di masyarakat. Sehingga kedua belah pihak akan saling membangun satu sama lain.

Banyak uneg-uneg, tapi hari ini cukup ini dulu. Semoga ragam rupa karya desain di Indonesia semakin berwarna! Tetap semangat kawan serta kolega!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s