opini

Menumbuhkan Inovasi Desain Berbasis Lokalitas

The World is (not) Flat

Memasuki milenium ke-2, dunia sempat ramai dengan ungkapan “the world is flat”. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi membuat batas geografis semakin lebur. Kata “global” seolah-olah diglorifikasi dan mendapat posisi tinggi dalam masyarakat, karena komunikasi lintas negara tidak lagi dibatasi oleh jarak dan paspor.

Akan tetapi Pankaj Ghemawat memiliki argumentasi lain terhadap isu globalisasi. Berdasarkan data-data yang dipaparkannya pada tahun 2012, ia menyebutkan hanya 1% surat pos merupakan kiriman antar negara, 2% telepon merupakan sambungan internasional, dan 18% akses internet bersifat lintas negara. Hal ini juga diperkuat oleh data bahwa 85% pertemanan kita di Facebook bersifat domestik. Pankaj Ghemawat lalu merangkumnya dalam sebuah ungkapan,”You may not be as global as you think”. 

Infografis

Gambar 1 Data pertukaran informasi lintar negara (sumber: Ghemawat, 2012)

Argumen ini sekaligus mengisyaratkan bahwa nilai-nilai lokal masih lekat dengan keberadaan kita sebagai masyarakat kontemporer. Ketika arus informasi terasa semakin cepat, orang-orang menginginkan sesuatu yang sifatnya lebih lambat. Ketika modernisme mebuat segala hal tampak seragam, orang menginginkan ciri khas yang bersifat autentik dan berbeda dari yang mereka pernah temui. Saat barang-barang diproduksi secara massal dengan mesin, orang-orang mencari barang-barang antik yang memiliki sentuhan tangan.

Gejala-gejala di atas dapat dirangkum sebagai bagian dari slow movement. Hadirnya slow movement ini tidak lantas membuat peradaban kita mengalami kemunduran. Justru dari pergerakan ini, kita dapat menghadirkan perpaduan menarik antara yang lama dan yang baru, antara aspek tradisional dan modern. Sebuah produk yang menjadi identitas masyarakat modern bisa diberikan sentuhan lokal yang melahirkan varian dan alternatif desain yang baru. Contohnya dapat kita lihat pada karya fesyen Lazuli Sarae yang menyatukan material jeans dengan motif batik serta produk Accupuncto yang memasukkan elemen akupuntur pada pada kursi modern.

Seorang Desainer Grafis Paula Irma Haryani Soenarso menyebutkan pendekatan ini sebagai strategi diferensiasi. Strategi ini membutuhkan kepercayaan diri untuk tampil dan membawakan ide baru yang berbeda. Apabila sebuah produk mulai menjadi generik di pasaran, maka harus ada inovasi yang membuatnya terlihat berbeda sehingga memiliki ciri khas tersendiri. Gambaran sederhana, kursi tetap memiliki fungsi yang sama sebagai tempat duduk, namun material lokal yang tersedia di masing-masing daerah dapat membuat kursi tersebut unik dibandingkan kursi-kursi yang tersedia di tempat lain.

Melahirkan Inovasi Baru dalam Desain

Saya sempat mewawancarai seorang Desainer Produk terkemuka Indonesia, Irvan Noe’man, untuk sebuah proyek buku Geo-etnik yang mendokumentasikan kegiatan acara Biennale Desain dan Kriya Indonesia 2013. Dalam kesempatan tersebut, beliau banyak menyampaikan opini serta kekhawatirannya tentang dunia desain di Indonesia. Minimnya pameran desain di Indonesia yang bertujuan edukatif, membuat perkembangan desain di Indonesia cenderung lambat bahkan stagnan.

Kekhawatiran ini tentu memiliki alasan, apalagi jika kita melihat pola pikir yang berkembang di publik tentang definisi pameran itu sendiri. Pameran yang diadakan seringkali tidak lebih dari sekedar pasar yang bertujuan komersial, dengan stan-stan pengisi yang diletakkan berjajar dalam ruangan. Tidak ada muatan edukatif atau kritis yang mampu melahirkan diskursus dalam wacana desain di Indonesia. Minimnya landasan riset dan pengembangan membuat pameran juga sepi dari ide-ide desain yang inspiratif.

Padahal, menurut Irvan Noe’man, sebuah pameran sejatinya berfungsi sebagai trend forecasting. Pameran dapat meramalkan bagaimana kondisi pasar dan tren desain ke depannya, setidaknya dalam jangka dua tahun mendatang. Pameran tidak bisa sekedar memajang produk-produk jadi, tetapi perlu ada elaborasi proses yang menjelaskan wacana serta pesan kritis yang dibawa dalam produk-produk tersebut. Dengan mengambil kriteria berupa muatan edukatif dan kritis, artinya Indonesia baru dua kali mengadakan pameran desain di Indonesia: JADEX (Jakarta Design Expo) pada tahun 1992 dan Biennale Desain dan Kriya Indonesia pada tahun 2013.

BDKI 2013

Gambar 2 Biennale Desain dan Kriya Indonesia 2013 membawa wacana desain baru di Indonesia

Ratusan etnik budaya yang terdapat di negeri ini, seharusnya merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan dan dipadukan dengan budaya kontemporer kita. Namun akibat sedikitnya wahana yang ada untuk mengekplorasi ide dan memahami desain secara kritis, maka potensi tersebut belum termanfaatkan dengan baik. Nilai-nilai lokal yang dapat menjadi keunggulan dan jati diri desain Indonesia, belum diolah secara baik. Kalaupun ada, seringkali nilai-nilai lokal hanya menjadi “bungkus luar” dari produk tanpa pemahaman kritis akan esensi nilai-nilai lokal tersebut.

Memang butuh upaya lebih agar jati diri Indonesia dalam dunia desain mendapatkan perhatian dari masyarakat. Kita tidak bisa sekedar menanamkan doktrin “Aku Cinta Produk Indonesia”, tanpa diikuti langkah untuk mengembangkan produk-produk tersebut. Desain sebagai bagian dari ekonomi kreatif, membutuhkan media-media baru untuk mengekploitasi pemikiran-pemikiran kritis yang bertujuan untuk melahirkan inovasi-inovasi baru. Membawa nilai lokal dalam desain bukan sekedar mengikuti tren, tetapi juga berarti sebagai usaha untuk membawa desain lebih dekat dan tanggap dengan gaya hidup masyarakat.

Referensi

Ghemawat, Pankaj. 2012. 3600 Culture Code: Leveraging the Workplace to Meet Today’s Global Challenges. Issue 65.

Wawancara Paula Irma Haryani Soenarso dalam Majalah Concept Vol. 06 Edisi 35 Tahun 2010.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s