Kritik

Manifestasi Makna Konsili Kedua dalam Arsitektur

Tulisan ini dulu diajukan untuk memenuhi tugas akhir sebuah mata kuliah. Riset literatur yang dilakukan cukup mendalam – saya dan ketiga teman saya mencari bahan-bahan secara komprehensif. Pembahasan utama sebenarnya mengenai Romo Mangun dan membaca jejak karyanya. Namun justru yang menarik bagi saya adalah ketika mengetahui ada peran Konsili Vatikan II, baik langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi jejak karya arsitektur beliau. Walaupun tidak secara langsung membahasakan arsitektur dalam Lumen Gentium, namun konsili ini memiliki peran dalam membahasakan nilai-nilai rohani yang acapkali asing agar mampu diterima masyrakat lokal. Sebuah studi banding yang berharga, untuk berkembang menuju masyarakat yang madani secara sosial.

Arsitektur Gereja Pasca Konsili Vatikan II Gereja telah mengalami berbagai perubahan sistem dalam struktur kemasyarakatan melalui berbagai periode. Gereja bukan lagi dipahami secara fisik sebagai artefak arsitektur, tetapi juga memiliki nilai tidak kasat mata (intangible) yang diwujudkan dalam konteks hubungan Tuhan dan manusia, serta hubungan manusia dengan sesamanya. Pastor Jacobus Tarigan Pr menjelaskan gereja adalah suatu “kemah Allah di tengah-tengah manusia” (Why 21:3) dan pembangunannya harus memperhatikan pertimbangan teologi dan sejarah liturgi (Sabdo, 2012). Walaupun secara umum gereja merupakan tempat beribadah, namun gereja juga merupakan pusat pewartaan dan pengajaran nilai-nilai Kristiani, terutama Katolik. Pengajaran ini menuntut satu communio  dengan gereja Roma atau sekurang-kurangnya tidak terpisah dari padanya (ex-communicatio) (Heuken, 1991 dalam Malino, 2012). Kesatuan ini tidak perlu dimaknai memaksakan keseragaman pada berbagai aspek, namun dapat membawa unsur-unsur lokalitas yang memberi nuansa akrab dengan masyarakat sekitar. Unsur-unsur lokalitas ini dibawa melalui proses inkultarasi yang memasukkan budaya lokal setempat pada bangunan gereja. Inkultarasi menjadi kata kunci yang menjadi bahasan pada berbagai tulisan mengenai arsitektur Gereja Katolik, hingga akhirnya menjadi perhatian utama Gereja Katolik yang dituangkan dalam Konsili Vatikan II (Laurens, 2013). Arsitektur Gereja Katolik yang pada awalnya merujuk pada ciri arsitektur Gotik, mulai mencitrakan diri dalam gaya arsitektur setempat.

Gereja Pohsarang di Kediri

Gereja Pohsarang di Kediri (sumber: GYovita, Flickr)

Proses inkulturasi tersebut merupakan suatu proses pengeintegrasian pengalaman iman ke dalam kebudayaan setempat sedemikian rupa sehingga pengalaman tersebut tidak hanya mengungkapkan diri di dalam unsur-unsur kebudayaan bersangkutan, melainkan juga menjadi kekuatan yang menjiwai, mengarahkan dan memperbaharui kebudayaan bersangkutan (Laurens, 2013). Inkulturasi melalui pembawaan ciri arsitektur setempat membawa konsekuensi bahasa simbolis gereja juga dibuat dalam ciri budaya lokal. Simbol-simbol tersebut bersifat ekspresif sesuai dengan konteks tempat serta periode ia dibangun. Hal ini dapat dilihat pada ornamen Basilika di Roma bernuansa renaissance, sedangkan ornamen Gereja Poh Sarang di Kediri bernuansa Jawa.

Proses ini menempatkan gereja sebagai organisasi yang dinamis karena perwujudannya lebur dengan konteks tempat dan jaman. Gereja tidak lagi menjadi budaya yang asing karena mengambil akar dari budaya penduduk setempat. Hal ini menjadi upaya gereja untuk memperbaharui ajaran dengan menerima dan menolak budaya tertentu, kemudian menyatukannya ke dalam gereja sebagai wahana rohani yang baru.

Perkembangan Arsitektur Gereja Sejarah Gereja Katolik meliputi rentang waktu selama hampir dua ribu tahun (Malino, 2012). Dalam rentang waktu tersebut terdapat perubahan pada struktur dan bentuk gereja, yang ditandai melalui peristiwa-peristiwa tertentu. Pada periode awal, gereja ditandai kehadirannya sebagai katakombe, yaitu pada rumah tinggal atau bangunan yang ditunjuk, ukan bangunan khusus. Bentuk gereja katakombe ini kemudian berubah setelah Kekaisaran Romawi mengakui Katolik sebagai agama resmi kekaisaran. Periode-periode penting berikutnya ditandai oleh masa pencerahan (renaissance) yang membawa ajaran-ajaran modernisme serta reformasi protestan. Perkembangan terkini terjadi pada abad 20, saat Konsili Vatikan II menempatkan kembali gereja dalam masyarakat melalui perubahan peran wali-wali gereja di wilayah masing-masing. Perkembangan arsitektur gereja yang signifikan ditandai dengan hadirnya kebudayaan renaissance yang dikonotasikan sebagai masa pencerahan, atau memiliki makna denotasi kelahiran kembali. Gaya arsitektur pada masa ini banyak mengacu pada arsitektur klasik Yunani serta Romawi kuno, dengan memunculkan fitur proporsi yang harmonis serta simetris. Era modernisme pada abad ke 16-19 ditandai dengan gaya pikir rasional yang menyatukan sensitivitas perasaan dengan pola pikir logis. Arsitektur Gereja Katolik mengikuti pola-pola seperti ini yang tercermin secara simbolis pada denah gereja yang memiliki sis sayap salib yang lebih panjang dari sisi yang lainnya, disebut salib Latin, serta berbeda dengan salib Yunani yang memiliki 4 sisi sama panjang (Happy, 2003).

Linimasa

Linimasa perkembangan gereja (Sumber: Malino, 2012)

Pada tahun 1962, Konsili Vatikan II mengartikan kebudayaan sebagai segala sesuatu, dimana manusia mengasuh dan mengembangkan pelbagai bakat rohani dan jasmani (Susantina, 2012). Konsili Vatikan II menyebutkan bahwa gereja tidak menganggap gaya seni manapun sebagai gayanya yang khas (Ariefyani, 2000). Gereja menghargai keadaan jaman dan bangsa agar tercermin dalam wujud fisik gereja.

Konsili tersebut mengesahkan 16 dokumen, dengan 2 konstitusi yang memiliki pengaruh kuat pada arsitektur gereja yaitu Lumen Gentium dan Saccrosanctum Concilium. Lumen Gentium membahas konstitusi dogmatis gereja secara umum, dengan pembahasan yang meliputi posisi umat serta hubungan antar hirarki gereja. Saccrosanctum Concilium menjelaskan liturgi gereja serta perangkat ibadat keseharia.

Walaupun kedua konstitusi tersebut tidak secara eksplisit menyebutkan arsitektur sebagai bagian pembahasan khusus, arsitektur gereja mulai mengalami perubahan mengiringi penerapan konstitusi tersebut. Kedua konstitusi tersebut merupakan suatu gerbang untuk masuk ke dalam adaptasi dengan budaya lokal (Kusbiantoro, 2008). Kusbiantoro (2008) lebih lanjut menyebutkan buah pikiran pemahamannya terhadap dampak Konsili Vatikan II:

  • Nilai-nilai lokal menjadi bagian dari aktivitas gereja
  • Perwujudan arsitektur mencirikan nilai-nilai lokal
  • Konsili Vatikan II menjadi milestone untuk memahami Gereja Katolik, terutama bentukan arsitekturnya

Proses inkulturasi budaya lokal mulai diterapkan dalam ibadat gereja, menuntut perwujudan fisik pada gereja itu sendiri. Proses inkultarasi tersebut dimaksudkan agar pewartaan ajaran Katolik mampu membudaya tanpa kehilangan makna liturgi gereja, sehingga arsitektur mewadahi titik temu budaya dan ajaran Katolik dalam perwujudan bangunan gereja. Konsili Vatikan II adalah langkah awal dalam membentuk gereja yang mampu dipahami oleh masyarakat melalui bahasa yang telah mengakar dalam keseharian mereka.

Keberpihakan pada Kaum Dina Nilai lokalitas pada gereja juga dimaknai sebagai keberpihakan pada kaum dina (church of the poor). Alasan ini diperkuat oleh keadaan beberapa bangsa yang masih didominasi oleh kaum miskin. Keberpihakan ini dinilai sebagai salah satu pembaharuan gereja untuk mendekatkan diri serta bersikap rendah hati dengan kaum dina yang mendominasi populasi serta struktur sosial pada suatu masyarakat. Istilah keberpihakan pada kaum dina telah disebutkan oleh Paus Yohanes XXIII sebulah sebelum pembukaan Konsili Vatikan II (Bacani, Jr., 2005). Pesan ini disampaikan melalui radio yang mengindikasikan perhatian Paus pada negara-negara terbelakang,

“Confronted with the underdeveloped countries, the church presents itself as it is and wishes to be, as the church of all, and particularly as the Church of the Poor.”

Kata-kata yang diucapkan oleh Paus Yohanes XXIII “presents itself as it is” menyatakan bahwa tidak ada unsur pemaksaan atau unsur yang dibuat-buat sehingga membuat gereja sama sekali asing. Kata-kata berikutnya yang perlu dicermati “wishes to be” adalah suatu pernyataan tentang keinginan yang lahir dari diri sendiri, mengindikasikan bahwa gereja adalah perwujudan nurani yang menghargai keinginan dari masyarakat.

Istilah church of the poor dicetuskan pada pesan tersebut yang menjadi rangkuman serta kesimpulan pernyataan Paus Yohanes XXIII tentang pandangannya pada gereja. Sebagai tempat yang mewakili semua umatnya, maka kaum dina memerlukan perhatian khusus sebagai bagian umat. Kaum dina yang identik dengan tertindas, tertinggal, dan terpinggirkan, mendapat prioritas utama dan perhatian dari gereja. Kaum dina ini kemudian mendapat perhatian dari Romo Mangun dalam karyanya yang berjudul “Gereja Diaspora”. Diaspora berarti terpencar-pencar, menyebar dan perantauan (Baekah 2001). Istilah ini digunakan Romo Mangun untuk menjelaskan keadaan kaum Kristiani sebagai minoritas yang hidupnya menyebar dan terpencar-pencah di seluruh wilayah Indonesia.

Konsep “Gereja Diaspora” yang dibawa oleh Romo Mangun merupakan konsep kehidupan menggereja yang memberi perhatian pada kaum dina, sekaligus menghilangkan kesenjangan dengan kaum elit untuk memberikan pelayan gereja yang lebih baik pada umat. Keberpihakan pada kaum dina juga identik dengan istilah preferential option for the poor, yang menunjukkan upaya agar kaum dina memiliki gereja. Evers (2006) dalam artikelnya yang berjudul “Challenges to the Churces in Asia Today”, mengungkapkan peran-peran uskup Asia dalam Konsili Vatikan II salah satunya adalah dalam bidang liturgi, agar unsur vernakular menjadi pilihan penyampaian bahasa liturgi ajaran Katolik. Hal ini disebabkan oleh kaum dina yang kebanyakan awam terhadap pengetahuan Katolik akan sulit mengakses ajaran Katolik yang didonimasi oleh liturgi Latin. Alasan pemilihan liturgi yang bernuansa vernakular oleh para uskup juga dipicu oleh pandangan terhadap karakter gereja di Asia. Evers lebih lanjut merangkum ciri-ciri tersebut sebagai berikut,

  1. Citra bahwa gereja sebagai budaya impor,
  2. Di Asia, komunitas Katolis adalah kaum minoritas, hidup dan tinggal dalam strata masyarakat yang memiliki keragaman budaya dan agama,
  3. Di Asia, perpecahan dalam agama Kristiani menjadi halangan penyampaian ajaran injil,
  4. Hal yang umum bahwa gereja-gereja di Asia masih bergantung pada gereja-gereja di Eropa,
  5. Dan keterkaitan yang kuat antara Gereja Katolik dengan institusi lain seperti sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan pusat pelayanan sosial.

Alasan-alasan ini memperkuat pentingnya membawa liturgi vernakular untuk memperluas ajaran Katolik di wilayah-wilayah Asia yang memiliki kesenjangan budaya dengan tatanan masyarakat dengan Eropa. Penggunaan liturgi vernakular juga diharapkan memudahkan pewartaan Katolik kepada masyarakat awam agar ajaran ini lebih mudah diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Romo Mangun sebagai tokoh kharismatik Katolik di Indonesia, menerjemahkan liturgi vernakular ini dalam bahasa arsitektur untuk membangun gereja yang tidak lagi identik sebagai budaya impor.

Semangat Konsili Vatikan II pada Karya Romo Mangun Istilah kaum dina itu sendiri muncul akibat adanya kesenjangan ekonomi, terutama setelah era industri yang memperlakukan terhadap kaum buruh secara buruk. Kondisi ini mulai memicu perubahan sikap gereja, ditunjukkan melalui ajaran sosial gereja pada tahun 1891. Paus Leo XIII, dalam ensikliknya Rorum Novarum, dengan tegas menentang kondisi-kondisi yang tidak manusia yang menjadi situasi buruk kaum buruh dalam masyarakat industri (Baekah, 2001).

Konsili Vatikan II adalah penegasan sikap gereja tentang memahami posisi kaum dina. Romo Mangun kembali menegaskan dalam “Gereja Diaspora” untuk memperbaiki sekaligus mengkritik posisi hirarkis dalam gereja yang mempersulit pelayanan gereja itu sendiri. Semangat Konsili Vatikan tergambar dalam karya-karya tulis maupun arsitektur Romo Mangun.

Secara umum, Romo Mangun membawa konsep Wastu dan Citra dalam berkarya arsitektur. Wastu mengacu pada pemahaman hakikat serta norma, mengandung citra sebagai tinjauan makna transenden. Konsep ini merupakan konsep vernakular yang dibawa Romo Mangun dengan mengambil referensi istilah “vasthuvidya” dari Jawa Kuna.

Pemahaman Romo Mangun akan arsitektur Gereja juga tidak bisa lepas dari pemahamannya berarsitektur. Sunaryo (2007) menyebutkan pemahaman Romo Mangun akan guna dan citra:

  • Mampu memberi makna dari materinya
  • Berangkat dari eksistensi manusia : jasmani dan rohani yang bila dipisahkan akan mati
  • Membahasakan dan mencerminkan jati diri pengguna.

Proses ini dimaknai Romo Mangun sebagai langkah-langkah intuitif, karena memerlukan pemaham makna secara mendalam terhadap tempat ia akan berdiri. “Eksistensi manusia” serta “jati diri” merupakan kata kunci yang menjelaskan bagaimana Romo Mangun kemudian memahami bahwa arsitektur juga lahir manusia, sebagai bagian dari alam. Lebih khusus lagi dalam kasus bangunan religius, Sunaryo (2007) menyebutkan,

“Untuk bangunan religius beliau menerapkan konsep kesatuan antara kesakralan ibadah dengan kehidupan manusia sehari-hari, perancangan menitikberatkan pada kesinambungan ruang luar dan ruang dalam gereja dengan tujuan menghindari kesan selama ini bahwa gereja adalah sesuatu yang suci, sakral dan najis disentuh oleh manusia yang berdosa.”

Irisan antara “Gereja Diaspora” dengan Konsili Vatikan II jelas tergambar pada konsep menggereja Romo Mangun. Liturgi Vernakular menjadi semangat yang kuat bagi Romo Mangun untuk membangun Gereja Katolik yang bernuansakan kehidupan lokal. Melalui simbol-simbol gereja yang memiliki kaitan dengan mitologi Jawa, Romo Mangun “membahasakan” gereja dalam bahasa lokal sehingga ajaran Katolik lebih mudah dipahami oleh masyarakat. [gie]

Referensi

Anintana, Egia. 2007. Pemaknaan Ornamen-ornamen pada Gereja Katolik Inkulturasi Karo di Kota Berastagi, Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia: Depok

Ariefyani, Jeane Sushinta. 2000. Gereja Katolik Santa Maria de Fatima: Tinjauan Deskriptif Arsitektur. Fakultas Sastra Universitas Indonesia: Depok

Baekah, Siti. 2001. Konsep Gereja Diaspora dan Pemihakan Terhadap Kaum Dina. Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga: Yogyakarta

Happy, H. 2003. Konsep Modern pada Gereja Katholik di Indonesia. Universitas Katolik Soegijapranata: Semarang

Kusbiantoro, Krismanto. 2008. Implikasi Konsep Ruang Heterotopia Pada Arsitektur Gereja Karya Mangunwijaya Sebagai Akibat Adaptasi Budaya Lokal; Studi Kasus: Gereja Maria Asumpta, Klaten – Jawa Tengah. Simposium Nasional Arsitektur Vernakular 2: Pertemuan Arsitektur Nusantara. Universitas Maranatha: Bandung

Laurens, Joyce M. 2013. Peran Teknologi pada Relasi Bentuk dan Makna Arsitektur Gereja Katolik dalam Proses Inkulturasi. Universitas Kristen Petra: Surabaya

Laurens, Joyce M. 2013. Relasi Bentuk-Makna Perseptual pada Arsitektur Gereja Katolik di Indonesia. Universitas Kristen Petra: Surabaya

Malino, Wilvansius. 2012. Gereja Katolik Kristus Raja di Wasuponda, Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Universitas Atma Jaya: Yogyakarta

Sunaryo, Rony Gunawan. 2007. “MENGIKUTI LANGKAH PIKIR ROMO MANGUN: Sebuah Tinjauan Mengenai Metode Perancangan Arsitektur Yusuf Bilyarta Mangunwijaya”. Dimensi Teknik Arsitektur. Vol 35, No. 1, Juli 2007: 41-45. Universitas Kristen Petra: Surabaya

Susantina, Sukatmi. 2012. Unsur-Unsur Kesenian Jawa Dalam Inkulturasi Gereja Katolik Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta Perspektif Aksiologi. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta

Artikel Daring

Evers, George. 2006. Challenges to the Churches in Asia Today. http://eapi.admu.edu.ph/content/challenges-churches-asia-today akses 16 Mei 2014

Sabdo, Benny A. 2012. Gereja adalah Rumah Bapa. http://m.hidupkatolik.com/index.php/2012/03/14/gereja-adalah-rumah-bapa akses 15 Mei 2014

Bacani Jr., Teodoro C. 2005. Church of the Poor. http://eapi.admu.edu.ph/content/church-poor-church-philippines-reception-vatican-ii akses 16 Mei 2014

Advertisements

2 thoughts on “Manifestasi Makna Konsili Kedua dalam Arsitektur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s